kesehatan gigi

Agustus 11th, 2009 by unikdental09

Gigi Sehat Tetap Harus Dirawat

3 comments
drg. Irayani Queencyputri — February 21, 2008 / 1:35 pm

Topic: Info
Tags: gigi, gigi sehat, kerusakan gigi, perawatan gigi, pola makan, sikat gigi

Gigi yang sehat adalah gigi yang bersih tanpa adanya lubang. Dengan perawatan gigi secara baik dan teratur, maka tidak akan ada gigi yang berlubang dalam mulut kita. Oleh karena itu, upayakan perawatan maksimal untuk mendapatkan gigi yang sehat senantiasa.

Perawatan gigi dan mulut sejak usia dini sangat menentukan kesehatan gigi dan mulut sampai akhir hayat. Beberapa penyakit gigi dan mulut bisa dialami oleh anak-anak dan balita bila perawatan tidak dilakukan dengan baik, misalnya lubang pada permukaan gigi, gusi yang meradang, dan adanya sariawan.

Kerusakan gigi yang umumnya terjadi pada usia dini (anak-anak dan balita) biasanya karena faktor makanan/minuman. Makanan yang manis seperti coklat dan lengket seperti dodol kalau tidak segera disikat/kumur akan tertinggal dan menyebabkan kerusakan gigi. Juga minuman seperti teh, kopi, minuman ringan, serta rokok dapat menimbulkan lapisan tipis di gigi yang disebut stain sehingga warna gigi jadi kusam, kecoklat-coklatan. Lapisan stain yang kasar itu mudah ditempeli sisa-sisa makanan dan kuman, yang akhirnya membentuk plak, jika tidak dibersihkan akan mengeras dan menjadi karang gigi dan bisa merambat ke akar gigi. Akibatnya gigi mudah berdarah, gigi gampang goyah dan mudah tanggal.

Manfaat Garam untuk Kesehatan Gigi

TPG IMAGES
/

Kamis, 23 Oktober 2008 | 15:14 WIB

Garam ternyata tak hanya bermanfaat sebagai penyedap rasa. Butiran mungil berwarna putih itu juga bisa digunakan untuk kesehatan mata dan gigi.

1. Pembasuh Mata. Untuk meredakan sakit mata, dalam keadaan darurat gunakan air garam untuk membasuh mata. Bila keluhan tak berkurang, segeralah memeriksakannya ke dokter mata.

2. Obat Kumur. Air hangat yang telah dibubuhi sedikit garam merupakan pencuci mulut yang efektif. Begitu juga bila terkena radang tenggorokan. Masukkan sedikit garam ke dalam air panas, aduk perlahan lalu gunakan sebagai obat kumur.

3. Gigi Putih. Gigi yang terlihat kusam akan kembali cemerlang dengan cara menaburkan garam kering ke ujung bulu-bulu sikat gigi Anda saat akan menggosok gigi.

4. Sikat Gigi Awet. Merendam sikat gigi yang masih baru dalam larutan air garam akan membuat sikat gigi menjadi lebih awet dipakai.

Perawatan Gigi untuk Kecantikan

Google
Sebelum memutihkan gigi, berkonsultasilah dulu dengan dokter gigi.
/

Rabu, 5 Agustus 2009 | 10:17 WIB
  Posted in Tak Berkategori | No Comments »

MASA DEPAN

Agustus 11th, 2009 by unikdental09

” ORANG HIDUP TIDAK MEMANDANG KE MASA LALU. APA YANG ADA DIDEPAN ITULAH YANG HARUS DIHADAPI”!!

Tentang Gigi

8 comments
drg. Irayani Queencyputri — June 4, 2008 / 2:42 pm

Topic: Info
Tags: anatomi gigi, dentin, email, gigi, pulpa

Gigi. Gigi yang mau dibahas di sini bukan tentang band musik yang punya vokalis Armand Maulana itu. Gigi di sini adalah salah satu aksesoris dalam mulut yang mempunyai tiga peranan yang sangat penting. Apakah itu?

Untuk berbicara (fonetik). Tentu saja! Coba lihat nenek-nenek yang sudah ompong. Ngomongnya pasti sudah tidak jelas, bukan?

Untuk mengunyah makanan. Ya, untuk konsumsi makanan apapun, selunak apapun menurut kita, kita masih perlu gigi untuk mengunyah makanan yang kita konsumsi. Tujuannya agar makanan yang masuk itu dapat dicerna dengan baik oleh organ pencernaan selanjutnya. Bagaimana kalau tidak terkunyah dengan baik? Kasihan, organ pencernaan selanjutnya akan bekerja super keras untuk melunakkan makanan yang kita konsumsi. Hasilnya? Sakit perut. Hehehe.

Untuk estetika. Bagaimanapun kerennya seseorang, tapi kalau gigi depannya ompong, malu dong! Hehehe.

Nah gigi itu mempunyai struktur, bentuk, dan jumlah yang hampir sama. Pada anak-anak terdapat 20 buah gigi sulung, terdiri dari 4 gigi seri, 2 gigi taring, dan 4 gigi geraham pada kedua rahang (rahang atas dan rahang bawah). Pada orang dewasa, normalnya berjumlah 32 buah gigi tetap, terdiri dari 4 gigi seri, 2 gigi taring, 4 gigi geraham kecil, dan 6 gigi geraham besar pada kedua rahang (rahang atas dan rahang bawah). Trus, apa bedanya gigi dewasa dan gigi anak-anak? Gigi dewasa dan gigi anak-anak bisa dibedakan dari bentuk, warna, ukuran, jumlah, dan struktur gigi.

Nah lihat gambar di samping. Gigi yang kelihatan dalam mulut itu, tidak seindah bunga mawar maupun daun kelor. Gigi yang kita punya adalah salah satu organ yang cukup rumit. Sekecil itu masih punya beberapa bagian yang penting. Walaupun bentuknya beda-beda, tiap gigi itu punya struktur anatomi yang sama tiap gigi dan tiap orang. Yang kelihatan di dalam mulut itu namanya mahkota gigi. Dan ada bagian yang tertanam di dalam gusi dan tulang rahang, namanya akar gigi. Trus ada istilah leher gigi, yaitu pada batas antara mahkota gigi dan akar gigi. Lapisan gigi yang paling luar namanya email. Merupakan bagian yang dapat dilihat oleh kita, dan percaya tidak percaya, bagian ini adalah bagian yang terkeras pada tubuh kita. Lapisan berikutnya namanya dentin, dengan warna agak kekuningan. Lalu setelah dentin, kita akan menemukan bagian dalam gigi yang terakhir, dinamakan pulpa. Pulpa ini merupakan suatu rongga di dalam akar gigi, yang berisi banyak pembuluh darah dan pembuluh saraf. Karena ruang pulpa ini sangat kecil, jadi kalau ada infeksi atau radang pada gigi, sakitnya lebih terasa daripada sakit di bagian tubuh yang lain. Makanya sakit gigi bisa mengganggu aktivitas kerja, kan?

Demikian pembahasan tentang gigi, sampai di artikel berikutnya :)

PASANG GIGI

Agustus 3rd, 2009 by unikdental09

PASANG GIGI MURAH
SEHAT
KUAT
DAN RAPI
DIJAMIN PUAS
BERGARANSI………PASTII!!
HUB. SHOLEH
085648363627

MELAYANI PANGGILAN DALAM MAUPUN LUAR KOTA…….(YANG TERJANGKAU).
HARGA……Rp.50Rb/Biji

kEJAWEN

Agustus 3rd, 2009 by unikdental09

Ask kejawen…Pilih halaman 1, 2, 3 Selanjutnya :| |:

Ajangkita Forum -> Filsafat, Ketuhanan & Isme
#1: Ask kejawen… Pemasang: agitho_ryuki, Lokasi: mBantul Ngayogyakarto Hadiningrat Dikirim: 16 Apr 2008 10:29 pm
—-
Apakah Kejawen itu ada hubungannya dengan Hindu dan Budha? Karena untuk beberapa ritual kejawen sepertinya diadopsi dari Hindu dan Budha. Betul ga?
#2: Pemasang: kunderemp, Lokasi: Jakarta Dikirim: 17 Apr 2008 12:33 am
—-
Sebenarnya kurang tepat kalau ditaruh di Hindu.
Walau aku tidak beragama Hindu tetapi karena aku punya beberapa kenalan Kejawen, aku mencoba menggambarkan.

Bukan diadopsi sebenarnya..
Tetapi sudah ada dari awal dan kehadiran agama-agama lain mempengaruhi kepercayaannya.

Salah satu yang dominan dari Kejawen adalah, keinginan untuk menyatu dengan alam, harmoni dengan alam. Maka konsep seperti hubungan Atman - Brahma atau Smadhi gampang diadaptasi oleh Kejawen. Begitu juga, aliran sufi Wahdatul Wujud ‘ala Al-Hallaj juga gampang diterima oleh Kejawen.

Di antara kenalan-kenalan kejawen yang pernah kuajak diskusi, kebanyakan lebih cenderung ke Panenteisme daripada sekedar Animisme-Dinamisme sederhana.

Uniknya, ‘Kejawen’ itu sendiri tidak mau terikat pada bentuk kaku. Itu yang membedakan dengan Hindu. Kalau kamu pernah bertemu orang Kejawen, dia bisa mencari ‘guru’ sampai ke sana-sini sampai bahkan pindah-pindah agama atau aliran. Dan mereka tidak segan-segan untuk nyeleneh dan bahkan menyebalkan buat pemeluk agama lain (dan gak heran ada tipe-tipe seperti Darmogandul atau Gatolotjo).

Salah satu aliran Kejawen yang cukup terkenal adalah ‘Samin’ (coba lihat film yang dibintangi WS Rendra, Lari Dari Blora) atau istilah yang diinginkan mereka, ‘Wong Sikep’ yang berada antara Pati dan Blora.

Kalau soal ritual,
jujur aja aku tidak setuju dibilang diadaptasi dari Hindu dan Buddha. Pertama, ritual Hindu di Nusantara dan Bali ada beberapa perbedaan (adakah yang merayakan Divali di Indonesia?).

Ritual Hindu di Indonesia — maaf — bahkan terlihat ada beberapa pengaruh dari Tiongkok (seperti hio) dan pengaruh yang sama pula mungkin yang ada di Kejawen. Jadi lebih cenderung adaptasi dari budaya Tiongkok daripada Hindu. Seorang kawan aktivis anti diskriminasi yang kebetulan pernah berkelana sampai ke suku2 di pelosok2 (termasuk Badui maupun Kalimantan) pernah mengajukan contoh2 akulturasi.

(udah lama banget gak ada AK-er Hindu yang jawab di sini yah?)
#3: Pemasang: agitho_ryuki, Lokasi: mBantul Ngayogyakarto Hadiningrat Dikirim: 18 Apr 2008 08:07 pm
—-
Oh gitu ya…. Jadi kejawen itu sendiri ya…. Kalo mau bahas kejawen di kamar mana enaknya?
#4: Pemasang: kunderemp, Lokasi: Jakarta Dikirim: 18 Apr 2008 10:41 pm
—-
Belum ada kamarnya…
tetapi seingatku di yahoogroups ada milis saminisme. Tapi tampaknya sepi. Cari saja teman yang orang jawa, dan tanya apakah ada paman atau kakeknya yang kejawen.
#5: Re: Ask kejawen… Pemasang: sas_mito edi, Lokasi: JAKARTA Dikirim: 19 Apr 2008 11:50 am
—-
Yah memang tidak ada ya di DAA , kan juga Kejawen apa bisa di masukkan sebagai agama ????? Tapi for time being , rasanay tidak ada salahnya kalo didiskusikan dalam forum ini , usul saja sama Kund sang penguasa AK ini , gimanan kalu forum ini dijadikan DAA Hindu dan kepercayaan lain , just usul !!!! Jadinya bisa juga menampung mengenai Konghucu , Sinto kali , atau kepercayaan kuno lain seperti yg ada di sumut (Batak ?) Badui dlll

Kembali ke topik , Kund , bisa tidak anda membuat batasan secara kasar untuk memberikan “kisi kisi” (mo ujian semester kali ] apa itu Kejawen ???? Kalo menurut saya “Gatoloco atau Darmogandul” sih ajarannya nggak bisa di formulasikan yg menonjol kliatannya hanya suatu gagasan reaksioner thd ajaran Islam . Itu menurut penangkapan saya.
#6: Pemasang: kunderemp, Lokasi: Jakarta Dikirim: 20 Apr 2008 12:31 am
—-
Dulu aku pernah menawari untuk forum kepercayaan..
Tapi yang minat sedikit…

Nanti takutnya malah jadi forum gak karuan.

Batasan kejawen?
Sulit…
Masing-masing kelompok punya ajarannya sendiri. Bahkan seandainya dibatasi ‘orang Jawa sebagai pemeluknya’, tidak tepat juga karena ternyata ada orang-orang non-Jawa yang tertarik dan jadi pemeluknya.

Dan mereka gak nyaman disebut sebagai ‘agama’. Mereka lebih menyukai keyakinan mereka disebut ‘Laku’. Artinya sesuatu yang mereka hayati dan lakukan sendiri. Tapi mereka memiliki kelompok.

Benar, Gatoloco atau Darmogandul lebih mirip sebagai reaksi terhadap ajaran Islam. Tetapi nuansa ‘nyeleneh’ itu umum sekali dalam kejawen dan buat orang kejawen, bukan sesuatu yang harus disingkirkan. Sepanjang yang kutahu, aku belum menemukan kasus di mana orang kejawen merasa terhina karena kepercayaannya dihina.
#7: Pemasang: agitho_ryuki, Lokasi: mBantul Ngayogyakarto Hadiningrat Dikirim: 20 Apr 2008 07:42 am
—-
Aku habis berkujung di tempat sesepuh yang ada di Bantul…
ternyata dalam kejawen banyak filosofi-filosofi yang kompleks tapi digambarkan secara sederhana…
Mereka menyebutkan Tuhan itu sebagai “Sing Kuoso”. Entah itu Allah, Dewa, atau Tuhan yang lainnya mereka tidak begitu mempedulikan…
Jika kita bisa menghayati dan merenung dengan keikhlasan hati kita dapat mersakan kehadiran “Sing Kuoso” itu…
#8: Re: Ask kejawen… Pemasang: satmata, Lokasi: uning anong uninong aning Dikirim: 21 Apr 2008 10:41 am
—-
Sedikit yang saya tahu…

Kejawen itu sebetulnya suatu ajaran tentang bagaimana manusia melakukan sesuatu yang selaras dan seimbang dengan alam, dan bagaimana menyikapi hidup dalam suatu kehidupan, dan bahan acuannya dalah dari kejadian sehari2, kebiasaan, gejala alam dan mempelajari dari seluruh pori2 kehidupan ….tidak ada sekat2 dari ajaran ini, karena dipandang semua tercipta karena ada tujuannya dan tujuannya adalah baik, jadi tergantung manusianya sendiri, semuanya adalah dari Sang Maha Pencipta dan Dialah yang menentukan ….

Istilah kejawen sendiri sebetulnya masih rancu, karena ada org yang menganggap ini adalah sebuah agama, ada juga menganggap ini sebuah paham animisme dan dinamisme…..Padahal ajaran ini pada mulanya adalah bernama “Kapitayan” artinya Keselamatan yang di bawa oleh Semar atau Bodronoyo dan padahal tokoh inipun bukan sebenar2nya sosok….tapi adalah sebuah makna yang tersirat saja…hanya untuk simbol, karena manusia itu selalu membutuhkan figur panutan buat contoh dan di contoh ….

Dan dalam perjalanannya kejawen sendiri akhirnya ada beberapa sempalan yang membuat ajarannya dianggap melenceng karena terlihat terlalu klenik dan bukan suatu agama….karena sebetulnya agama atau ajaran apapun itu pasti ada maknanya dalam ajaran kejawen, seperti misal; agama dalam pandangan jawa adalah ageman atau pakaian sedangkan islam adalah sebuah penunjuk jalan yang ada dalam kedalaman Jiwa, sehingga baju hanyalah merupakan identitas dunia atau penanda sedangkan jiwa adalah merupakan bagaimana kunci agar kita selalu berjalan BersamaNya ( Gusti Pangeran ), jadi orang beragama islam dan orang Islam itu berbeda….

kalo masalah Gatoloco dan Darmogandul…..itu di ciptakan untuk mengkritisi agar islam selalu murni, agar manusia bukan hanya memandang islam sebagai agama atau identitas saj tetapi islam sebagai jiwa…karena yang kembali kepadanya bukan bajunya atau identitasnya , tetapi jiwanya ( ruh ), karena jaman dahulu seolah2 baju telah menyiratkan jiwa maka karya sastra dan seni inilah cara untuk mengkritisinya …
#9: Pemasang: pranata, Lokasi: Kurusetra Dikirim: 05 Mei 2008 08:58 am
—-
Kutipan:

Yah memang tidak ada ya di DAA , kan juga Kejawen apa bisa di masukkan sebagai agama ????? Tapi for time being , rasanay tidak ada salahnya kalo didiskusikan dalam forum ini , usul saja sama Kund sang penguasa AK ini , gimanan kalu forum ini dijadikan DAA Hindu dan kepercayaan lain , just usul !!!! Jadinya bisa juga menampung mengenai Konghucu , Sinto kali , atau kepercayaan kuno lain seperti yg ada di sumut (Batak ?) Badui dlll

enak aja menjadikan DAA ini DAA Hindu dan kepercayaan lain…
agama Hindu adalah termasuk agama sah loh…. jangan dicampur adukkan dgn kepercayaan. walau Hindu banyak kepercayaan, tapi gak semua kepercayaan adalah Hindu….
walau Hindu Universal, tapi tidak semua ke Universalan bisa diterima.

kalau masalah kejawn, emang masih berbau Hindu, namu kejawen sebenarnya sudah ada sebelum hindu datang. namun kejawen akhirnya beralkulturasi dengan agama-agama yang ada…..
#10: Pemasang: sas_mito edi, Lokasi: JAKARTA Dikirim: 08 Mei 2008 10:51 am
—-
pranata menulis:
Kutipan:

Yah memang tidak ada ya di DAA , kan juga Kejawen apa bisa di masukkan sebagai agama ????? Tapi for time being , rasanay tidak ada salahnya kalo didiskusikan dalam forum ini , usul saja sama Kund sang penguasa AK ini , gimanan kalu forum ini dijadikan DAA Hindu dan kepercayaan lain , just usul !!!! Jadinya bisa juga menampung mengenai Konghucu , Sinto kali , atau kepercayaan kuno lain seperti yg ada di sumut (Batak ?) Badui dlll

enak aja menjadikan DAA ini DAA Hindu dan kepercayaan lain…
agama Hindu adalah termasuk agama sah loh…. jangan dicampur adukkan dgn kepercayaan. walau Hindu banyak kepercayaan, tapi gak semua kepercayaan adalah Hindu….
walau Hindu Universal, tapi tidak semua ke Universalan bisa diterima.

Sabar mas Pranata ,…….. itu hanya suatu pemikiran karena ternyata tidak ada forum bisa menampung atau pas dengan masalah Kejawen ini. Pemikiran ini muncul dengan analogi adanya DAA kristen (umum) , dimana disitu terkumpul antara Katolik ,Protestan mungkin Advent dan yg lain lain , nah sejalan dengan itu saya trerpikir untuk masalah Kejawen ini. Tapi rupanya sudah dijawab oleh Kund sebagai lurahnya AK demikian.
pranata menulis:

kalau masalah kejawn, emang masih berbau Hindu, namu kejawen sebenarnya sudah ada sebelum hindu datang. namun kejawen akhirnya beralkulturasi dengan agama-agama yang ada…..

Nah,…… tidak begitu mleset kan pemikiran saya mas Pran !!!!
#11: Re: Ask kejawen… Pemasang: sas_mito edi, Lokasi: JAKARTA Dikirim: 08 Mei 2008 12:04 pm
—-
satmata menulis:
Sedikit yang saya tahu…

Kejawen itu sebetulnya suatu ajaran tentang bagaimana manusia melakukan sesuatu yang selaras dan seimbang dengan alam, dan bagaimana menyikapi hidup dalam suatu kehidupan, dan bahan acuannya dalah dari kejadian sehari2, kebiasaan, gejala alam dan mempelajari dari seluruh pori2 kehidupan ….tidak ada sekat2 dari ajaran ini, karena dipandang semua tercipta karena ada tujuannya dan tujuannya adalah baik, jadi tergantung manusianya sendiri, semuanya adalah dari Sang Maha Pencipta dan Dialah yang menentukan ….

Istilah kejawen sendiri sebetulnya masih rancu, karena ada org yang menganggap ini adalah sebuah agama, ada juga menganggap ini sebuah paham animisme dan dinamisme…..Padahal ajaran ini pada mulanya adalah bernama “Kapitayan” artinya Keselamatan yang di bawa oleh Semar atau Bodronoyo dan padahal tokoh inipun bukan sebenar2nya sosok….tapi adalah sebuah makna yang tersirat saja…hanya untuk simbol, karena manusia itu selalu membutuhkan figur panutan buat contoh dan di contoh ….

Dan dalam perjalanannya kejawen sendiri akhirnya ada beberapa sempalan yang membuat ajarannya dianggap melenceng karena terlihat terlalu klenik dan bukan suatu agama….karena sebetulnya agama atau ajaran apapun itu pasti ada maknanya dalam ajaran kejawen, seperti misal; agama dalam pandangan jawa adalah ageman atau pakaian sedangkan islam adalah sebuah penunjuk jalan yang ada dalam kedalaman Jiwa, sehingga baju hanyalah merupakan identitas dunia atau penanda sedangkan jiwa adalah merupakan bagaimana kunci agar kita selalu berjalan BersamaNya ( Gusti Pangeran ), jadi orang beragama islam dan orang Islam itu berbeda….

kalo masalah Gatoloco dan Darmogandul…..itu di ciptakan untuk mengkritisi agar islam selalu murni, agar manusia bukan hanya memandang islam sebagai agama atau identitas saj tetapi islam sebagai jiwa…karena yang kembali kepadanya bukan bajunya atau identitasnya , tetapi jiwanya ( ruh ), karena jaman dahulu seolah2 baju telah menyiratkan jiwa maka karya sastra dan seni inilah cara untuk mengkritisinya …

Wah rupanya begitu ya mas Sat.
Saya tertarik lho bahwa “agama” yg dalam bahasa Jawa disebut “agomo” itu dianggap sebagai “ageman” atau pakaian !!!!
Saya sendiri mendapatkan masukan bahwa sebetulnya agama tidak hanya sebagai “ageman” atau pakaian yg dikonotasikan sesuatu yg lahiriyah just suatu tambahan saja atau sesuatu yg disampirkan saja kebadan !!! Padahal jelas “agama ” menukik tajam kepada masalah kejiwaan , suatu keyakinan !!!!! Jadi dengan pemaknaan sebagai ageman saja , itu kliatannya bukan pemaknaan yg pas mas Sat.
Maka dalam hal ini saya kok cenderung kepada pendekatan “agomo” (lafast Jawa dari agama) dimaknai sebagai “agemaning Jiwo” pakaiannya jiwa dalam hal ini ageman bukan dianggap sebagai pakaian secara harfiah , tetapi ageman adalah dimaknai sebagai segala sesuatu yg “disandang” yg mewakili isi dari si penyandang !!!! Maka “agemaning jiwo” adalah yg bisa dijadikan patokan bagi si jiwa , mewakili si jiwa , representasi dari jiwa !!!!!

Ini mungkin yg menyebabkan mas Satmata membedakan antara “orang yg beragama Islam” dengan “orang Islam” spt postingan sampiyan ini : Kutipan:
jadi orang beragama islam dan orang Islam itu berbeda….

Yg satu hanya sebagai pakaian , yg satu sebagai representasi jiwa , yg satu , “ageman” yg satu “agemaning Jiwo” !!!!!
Padahal dalam ajaran Islam sendiri lebih dikenal Islam adalah ADDIEN , dienul Islam !!!!! Yg harus dijadikan way of life dan way of thinking dan way of doing !!!! Mengamalkan , menjadi Islam secara kaffah !!!! Jelas makanya Islam bukan ageman !!!!!!
Kalau kejawen dikaitkan dengan sang lurah Semar Bodronoyo , rasanya perlu dikaji lebih dalam lagi . Seperti diketahui tokoh semar itu dikaitkan dengan kisah Pewayangan terutama dalam group Mahbarata yg diyakini dibawa oleh agama Hindu India. Namun dari babonnya (induknya) sendiri tokoh semar ini tidak ada. Jelas semar adalah tokoh yg lahir kudian sebagai penyampai idea saja !!!!! Sedangkan kejawen sebetulnya ada jauh sebelum itu. Seperti diketahui masyarakat Jawa adalah dominan masyarakat agraris dimana ciri pokok dari masyrakat agraris , irama hidupnya sangat paralel dengan denyut nafas alam !!!! Sangat repitive , sehingga segala sesuatunya bisa diperkirakan , sehingga banyak waktu luang bagi masyarakatnay untuk mengembangkan kresi nya untuk hala hal yg merupakan konsumsdi kejiwaan , maka timbullah karya karya pemikiran baik itu seni lahiriyah , maupun budaya adat istiadat ,niali nilai kerohanian !!!! Itu sudah ada dari sononya !!!!! Semar saya kira hanya suatu media penyampaian saja dari nilai nilai yg ada di masyarakat itu. Yg itu dijadikan alat yg sangat poluler atau dipopulerkan oleh Suharta melalui Harmoko sebagai corong atau penyampai program pemerintah dijamannya !!!!

Saya sependapat bahwa agak susah untuk memformulasikan apa itu faham”Kejawen” karena sudah sangat sukar menelusuri mana yg berasal dari tanah air nusantara dan mana pengaruh dari agama yg datang kemudian !!!!! Sehingga kita tidak bisa menilai apakah ini kejawen asli atau sempalan , penyelewengan !!!! Jadi apakah “slametan” itu kejawen atau sempalan , Kepercayaan adanya kekuatan supernatural yg berada diluar indera (ghoib) itu asli kejawen atau bukan, adanya nilai dalam tiap hari/waktu itu asli kejawen atau bukan sangatlah susah untuk mencari rujukannya !!!!!

Just sharing.
#12: Pemasang: kunderemp, Lokasi: Jakarta Dikirim: 08 Mei 2008 08:52 pm
—-
kupindah dari DAA Hindu….
kurasa untuk sementara lebih tepat di sini yah?
Ada yang tidak setuju?
#13: Pemasang: satmata, Lokasi: uning anong uninong aning Dikirim: 09 Mei 2008 09:28 am
—-
@ sas_mito edi

Betul sekali mas edi…..karena unsur manusia terdiri dari jiwa dan raga yang sebenarnya dua2nya haruslah tetap dalam keadaan bersih…cuma manusia cenderung memandang sesuatu dari kulit luarnya saja, sedangkan jiwanya tidaklah pernah teringat.

Padahal raga tanpa ruh tidak akan bisa bergerak dan hidup, begitu juga sebaliknya, ruh tanpa raga tidak bisa menunjukkan identitasnya sebagai Tajali Sang Maha Sempurna …..

Kalo untuk semar, ini sebenarnya bukanlah tokoh yang memang ada, tapi ini semua disampaikan dalam bahasa makna sehingga generasi selanjutnya bisa belajar menangkap sinyal2 yang ada dalam kejadian atau konteks semar itu sendiri….
#14: Pemasang: Pak Sis, Lokasi: batam Dikirim: 09 Mei 2008 11:52 am
—-
Kejawen maksudnya adalah ke-jawa-an. Artinya sesuatu yang “berbau” jawa. Jadi mustinya apapun itu, pastilah menjelaskan sesuatu tentang jawa, ya budayanya, cara berpikirnya, adat istiadatnya, pokoknya semua harus jawa. Jika tidak maka itu bukan kejawen.

Adalah fakta bahwa orang jawa bersifat terbuka, sehingga sesuatu apapun yang datang dari luar jawa, orang jawa tidak serta merta menampik, bahkan demikian tinggi tepo seliro-nya orang jawa justru dipersilakan untuk duduk berdampingan dengan penuh toleransi. Demikian sehingga masuknya pengaruh dari budaya orang hindu (kalau tidak mau disebut agama hindu), budaya dari orang budha, budaya dari orang islam, orang cina, orang kristen, orang apapun, sangat bisa terjadi.
Nah kalau dikatakan kejawen diadopsi dari paham/agama hindu saya tidak sependapat. Tapi kalau diwarnai dengan unsur-unsur hindu, islam, budha, kristen, cina, itu saya setuju.

Mengenai istilah kejawen ini saya tidak tahu kapan dan apa sebabnya digunakan untuk memberi istilah pada ajaran kerohanian / beragamanya orang jawa (selain definisi agama secara umum/dilegalkan oleh pemerintah),terlebih lagi digunakan untuk mengistilahkan aliran-aliran kepercayaan yang ada di masyarakat, misal paguyupan sumarah, sapto darmo, subud, ilmu sejati, ngudi utomo dll, kemudian masyarakat menyebut mereka orang kejawen. Padahal kalau kita lihat ajaran-ajarannya, di situ ada unsur islam-nya, kristen-nya, hindu-nya, budha-nya, konghucu-nya dan sulit sekali menemukan aliran yang asli jawa tanpa pengaruh lain. Dan memang tidak ada sesuatu di dunia ini yang bisa bertahan lama tanpa pengaruh dari unsur lain. Tidak ada satu agamapun di dunia ini yang tidak mendapat pengaruh dari faham sebelumnya, setidaknya tradisinya.

Jadi sebaiknya kita mulai membahas dengan mengambil salah satu aliran kejawen untuk kita telaah. Namun saya sendiri bukan pengikut resmi suatu aliran kepercayaan / kejawen, jadi saya tidak bisa memberikan bahan untuk kita kaji.
#15: Re: Ask kejawen… Pemasang: sas_mito edi, Lokasi: JAKARTA Dikirim: 11 Mei 2008 10:51 am
—-
Masuk ke forum falsafah ya ???? Bisa saja sih
Tapi bagaimana kalau dibatasi membicarakan pada “Filsafah (hidup orang) Jawa ” saja sebagai suatu penajaman dari ajaran “kejawen” atau “ke-Jawa-an”. Soalnya kalau filsafah secara umum diskusinya bisa sangat luas !!!!

Tapi mungkin timbul masalah , apa sih “falsafah Jawa ” itu ?????

Untuk itu bagaimana kalau kita bicarakan falsafah Jawa (bagaian dari ke Jawa an) yg sudah dikenal luas saja dulu , umpamanya ” Alon alon waton kelakon” terjemahan bebasnya : “Biar pelan asalkan bisa dilaksanakan/terlaksana” , “Tidak apa pelan asalkan sampai tujuan” ,
Nanti menyusul yg lain , diusahakan yg sudah dikenal luas sehingga partisipasi dari yg bukan Jawa bisa tertampung.
Silahkan bila sepakat , atau mas Sed atau pak Sis , bisa ada pandangan lain ???? Daripada kita mau bicara mengenai Sumarah , Subud atau yg lain , tetapi tidak ada yg menguasai ajaran itu ????

FISIKA

Agustus 3rd, 2009 by unikdental09

Penjelasan Umum

Teknik Fisika atau Engineering Physics adalah disiplin ilmu yang tumbuh seiring dengan dan sebagai tanggapan terhadap perkembangan ilmu pengetahuan dan teknologi di dunia. Sejarah menunjukkan bahwa program pendidikan Teknik Fisika di seluruh dunia, khususnya di Amerika Serikat, Eropa dan Kanada, berkembang dimulai sejak tahun 1940-an setelah perguruan tinggi menyadari perlunya mendidik satu jenis pendidikan keinsinyuran yang mempunyai dasar yang kuat dan cukup luas terdiri dari ilmu-ilmu fisika dan matematika, serta dasar-dasar engineering sesuai dengan perkembangan terakhir. Disiplin baru ini diharapkan dapat menjembatani, mendekatkan dan turut serta dalam berbagai kegiatan riset ilmu-ilmu terapan yang mendukung pengembangan perekayasaan dan teknologi (engineering and technology).

Pada saat ini, para lulusan disiplin-disiplin perekayasaan dan teknologi yang dikelola sesuai dengan pembagian disiplin ilmu-ilmu teknik secara tradisional umumnya menghasilkan lulusan dengan keahlian spesifik dan terspesialisasi. Hubungan antar disiplin perekayasaan dan teknologi tersebut dengan ilmu-ilmu dasar murni dan ilmu dasar terapan belum terjembatani. Adanya engineer yang dibekali dengan basis matematika dan fisika yang kuat dan cukup lebar dapat meningkatkan efisiensi dalam pelaksanaan R&D dan pemanfaatannya secara cepat di sektor-sektor industri dan dunia usaha. Program studi Teknik Fisika dengan demikian dapat memasuki seluruh tahap proses hulu ke hilir dalam aplikasi ilmu-ilmu dasar, ilmu-ilmu terapan hingga di sektor hilir pada pengembangan engineering dan pemanfaatan teknologi. Oleh karena fungsi, visi dan misinya, profesi Teknik Fisika sering disebut sebagai frontier engineering, dan mampu bergerak pada garis batas pengembangan teknologi baru yang memanfaatkan ilmu-ilmu dasar, matematika dan fisika.

Disamping itu, perkembangan yang cepat dari teknologi mutakhir (advanced technologies) memerlukan insinyur-insinyur yang mempunyai kemampuan antar-disiplin dan mampu dengan cepat mengasimilasikan dirinya untuk memanfaatkan kemajuan-kemajuan terakhir dari ilmu pasti dan alam. Seorang mahasiswa Teknik Fisika akan mendapatkan bekal yang cukup ilmu-ilmu dasar (kimia, fisika dan matematika) serta ilmu-ilmu keteknikan dari berbagai cabang (teknik mesin, teknik elektro, teknik kimia, teknik material). Integrasi dari ilmu-ilmu pengetahuan ini sangat diperlukan untuk pengembangan teknologi tinggi, baik yang berlangsung saat ini maupun yang akan terjadi pada masa yang akan datang.

Untuk menjawab kebutuhan tersebut, pendidikan Teknik Fisika pada strata pertama (S1) ditekankan pada penguasaan ilmu dasar sains dan engineering yang kokoh, sehingga lulusannya dapat berperan sebagai katalisator atau integrator/ koordinator/ fasilitator/ project leader dimana usaha-usaha yang bersifat multidisiplin dalam industri, penelitan dan pengembangan (R&D / research and development) dan kegiatan-kegiatan lainnya. Pada strata yang lebih tinggi (S2), program pendidikan diarahkan untuk memberikan bekal pada penguasaan ilmu-ilmu baru dan penerapannya dalam berbagai bidang kajian dan industri. Bidang-bidang kajian yang kini menjadi pilihan antara lain Computational Materials Science & Engineering, Optics and Fiber Optics, Laser Communication, Instrumentation and Computation Systems, Medical Instrumentations and Biophysics, Control System and Engineering, dan Built-in Environment, Vibration and Acoustics.

[sunting]
Sejarah Teknik Fisika di Indonesia

Pendidikan Teknik Fisika pertama kali diadakan di ITB Bandung pada tahun 1950-an. Seiring dengan berjalannya waktu, tingkat penyerapan industri di Indonesia semakin tinggi terhadap insinyur sehingga program pendidikan yang sama perlu dibuka ditempat lain yaitu di ITS Surabaya.

Sejarah Teknik Fisika di ITB, Bandung

Pendidikan Teknik Fisika tumbuh di Indonesia atas prakarsa ketua Fakulteit Teknik Universitas Indonesia, yang memandang perlu mengisi lapisan pemisah antara sains dan Teknologi. Pada tahun 1950, Prof. Dr.Ir. A. Nawijn, seorang ahli fisika teknik (natuurkundig Ingenieur) bangsa Belanda, ditunjuk untuk mengelola jurusan pendidikan teknik yang masih baru itu dengan nama Natuurkundig Ingenieur Afdeling. Pada tahun 1959 pendidikan teknik tersebut diberi nama Bagian Fisika Teknik yang tergabung dalam Departemen Fisika/Fisika Teknik, dengan ketua Prof.Ir. M.U. Adhiwijogo. Dalam waktu lima tahun, jumlah mahasiswa bagian Fisika Teknik berjumlah 25 orang. Selama perjalanan sejarahnya, Teknik Fisika ITB mengalami beberapa kali perubahan struktur organisasi:

Tahun 1963, Bagian Fisika Teknik menjadi bagian dari Departemen Fisika Teknik dan Teknologi Kimia. Tahun 1972, menjadi Departemen Fisika Teknik, salah satu departemen di bawah Fakultas Teknologi Industri. Tahun 1980, menjadi Jurusan Teknik Fisika dibawah Fakultas Teknologi Industri. Tahun 1999, menjadi Departemen Teknik Fisika dibawah Fakultas Teknologi Industri. Tahun 2005, menjadi Program Studi Teknik Fisika dibawah Fakultas Teknologi Industri. Apapun namanya, pendidikan Teknik Fisika secara konsisten mengajarkan dasar matematika dan rekayasa yang kuat pada mahasiswanya, serta selalu mengejar teknologi terkini yang melibatkan fenomena-fenomena fisika. Pada tahun 2007, program studi Teknik Fisika memiliki kapasitas mahasiswa (student body) sekitar 500 orang, dengan total lulusan lebih dari 2000 sarjana S1, 100 sarjana S2 dan 15 sarjana S3.

Sejarah Teknik Fisika di ITS, Surabaya

Program Studi Teknik Fisika pada awalnya merupakan Pada awal berdirinya, bulan Nopember 1965, jurusan ini merupakan salah satu Jurusan di Fakultas Ilmu Pasti dan Ilmu Alam (FIPIA) ITS, yang pertama kali berdiri pada Nopember 1965. Dalam perkembangannya, sejak tanggal 10 Nopember 1983 bidang studi ini berkembang menjadi jurusan terpisah dan berdiri di bawah Fakultas Teknologi Industri ITS dengan nama Program Studi Teknik Fisika. Pemisahan secara resmi ditetapkan dalam Keputusan Dirjen Dikti RI No. 116/Dikti/Kep/1984. Keberadaan Jurusan Teknik Fisika di FTI saat ini tertuang dalam STATUTA ITS No.0443/o/1992 tanggal 18 Nopember 1992.

Pada tahun 1995 Jurusan Teknik Fisika FTI - ITS membuka program studi D3 Instrumentasi sebagai jawaban atas tingginya permintaan pasar terhadap tenaga ahli madya di bidang instrumentasi, dimana calon mahasiswa Program Studi D3 Teknik Instrumentasi berasal dari beberapa SMU dan SMK yang mayoritas di Jawa timur yang proses penerimaannya dilaksanakan secara terpadu dengan program Studi D3 lainnya di ITS. Sedangkan lulusan pertama Program Studi D3 Teknik Instrumentasi FTI - ITS terjadi pada semester genap 1997 / 1998. Sekitar 30% aktivitas di Program Studi D3 Teknik Instrumentasi merupakan pendidikan untuk meningkatkan keahlian lulusan melalui praktikum di Laboratorium dan Kerja Praktek.

Jurusan Teknik Fisika adalah salah satu Jurusan di Fakultas Teknologi Industri ITS yang memberikan bekal ke mahasiswanya berupa ; Ilmu Fisika dan matematika yang kuat serta rekayasa keduanya ( Rekayasa Instrumentasi, Rekayasa Akustik dan Fisika Bangunan, Rekayasa Bahan, Rekayasa Energi dan Pengkondisian Lingkungan serta Rekayasa Fotonika ), sehingga lulusannya cepat beradaptasi dengan lingkungan kerjanya, hal ini merupakan ciri yang unik dari program pendidikan teknik fisika.

[sunting]
Kurikulum

Kurikulum Program Sarjana (S1) di Teknik Fisika berlangsung dalam tiga tahap dengan total kredit adalah 144 sks. Pada tahap pertama atau Program Tahap Persiapan Bersama (TPB) mahasiswa akan mempelajari ilmu-ilmu dasar. Pada tahap kedua atau Tahap Sarjana Muda, mahasiswa akan mempelajari dasar-dasar ilmu rekayasa, dan pada Tahap Sarjana, mahasiswa akan dibekali dengan bidang-bidang keahlian yang diminatinya.

Bidang Keahlian Teknik Fisika

Bidang-bidang keahlian bidang Teknik Fisika antara lain :
Kelompok Bidang Keahlian Instrumentasi dan Kontrol
Kelompok Bidang Keahlian Fisika Bangunan, Akustik dan Energi
Kelompok Bidang Keahlian Rekayasa Bahan (Semi konduktor, Super konduktor, Komposit, Bahan Elektronik)
Kelompok Bidang Keahlian Optik dan Laser

Bidang Ilmu Dasar
Fisika
Kimia
Konsep Teknologi
Matematika
Humaniora

Dasar Rekayasa
Matematika Rekayasa
Fenomena Gelombang
Termodinamika
Elektronika
Medan Elektromagnetik
Metode Pengukuran
Fenomena Transport
Sistem Logika Digital
Kontrol Otomatik
Fisika Material
Teknologi Sensor

Beberapa kuliah pilihan
Instrumentasi dan Pengukuran Industri
Analitik
Akustik
Optik
Kontrol Modern
Sistem Kontrol Cerdas
Teknik Pencahayaan
Teknologi Proses Material
Manajemen & Ekonomi Kerekayasaan

[sunting]
Profil Lulusan dan Lapangan Kerja

Lulusan Teknik Fisika bekerja di berbagai industri sebagai insinyur profesional di bidang instrumentasi dan kontrol (instrumentation and control), akustik dan teknik pencahayaan (lighting), teknologi bahan (material science), serta tata udara (refrigeration and air conditioning), staf peneliti di bidang teknologi terapan, staf pengajar di institusi pendidikan. Kelebihan yang spesifik dari lulusan Teknik Fisika adalah kemampuannya untuk bekerja dengan sistem yang melibatkan secara simultan banyak aspek fisika dan teknik.

Meskipun demikian, dunia industri di Indonesia pada umumnya hanya mengenal keahlian instrumentasi dan kontrol adalah keahlian dari alumni Teknik Fisika. Sehingga profesi insinyur instrumentasi (instrument engineer), insinyur pengendalian (control engineer), insinyur otomatisasi (automation engineer) dan lain-lainnya selalu ditempati oleh para insinyur lulusan Teknik Fisika.

Industri yang menyerap lulusan Teknik Fisika :
Industri Rekayasa dan Konstruksi (EPC : Engineering, Procurement & Construction)

Industri ini dimotori oleh perusahaan-perusahaan yang menangani rancang bangun suatu pabrik (plant) (contohnya: kilang minyak, pabrik petrokimia, pembangkit listrik), atau merancang bangun fasilitas produksi (contohnya: anjungan minyak dan gas lepas pantai, jalur produksi / perakitan otomatis, dll.). Rancang bangun ini dilakukan mulai dari atas kertas hingga mulai beroperasi.

Dalam pengerjaan rancang bangun suatu pabrik atau fasilitas produksi ini, lulusan teknik fisika akan bekerja sama sangat erat dengan process engineer (biasanya lulusan teknik kimia). Process engineer akan merancang dan menentukan alur proses dan unit-unit pemroses apa saja yang diperlukan, dan menuangkannya dalam process flow diagram serta P&ID (piping and instrument diagram). Sebagai instrument engineer, lulusan teknik fisika kemudian akan memberi input dan memfasilitasi otomatisasinya dengan diantaranya :

1. Merancang dan atau memilih alat ukur besaran proses yang sesuai (mis.: orifice DP flowmeter atau ultrasonic flowmeter?)

2. Merancang dan atau memilih final control element (mis.: menentukan kapasitas, karakteristik dan material dari control valve)

3. Mendiskusikan dan menentukan strategi kontrol yang tepat (mis.: proses bersifat sequential atau kontinu?)

4. Merancang sistem pengaman proses (process safety/safeguarding system) (mis.: safety logic diagram, cause and effect diagram)

5. Merancang dan atau memilih implementasi teknologi otomasi yang sesuai (mis.: menggunakan PLC atau DCS?)

6. Memfasilitasi agar representasi besaran-besaran proses tersedia di layar monitor control room (mis.: gambar pompa warna merah berarti pompa tersebut trip, dll.)

7. Mengkaji P&ID beserta dokumen terkait lainnya dalam HAZOP (hazard & operability studies) bersama-sama process engineer, piping engineer, mechanical engineer, operation engineer, maintenance engineer, safety engineer, dll. untuk mengidentifikasi dan memperbaiki kekurangan yang ada sebelum disain dari pabrik atau fasilitas produksi dibangun. (mis.: apakah tersedia alarm proses, alarm kebocoran gas, alarm kebakaran, emergency shutdown, dll. yang sesuai?)

Interface dengan piping engineer dan mechanical engineer (lulusan teknik mesin) juga diperlukan untuk menentukan karakteristik dari material instrumentasi, menentukan cara penempatannya di perpipaan dan tanki / unit proses, dll. Sedangkan interface dengan electrical engineer (lulusan elektro arus kuat) diperlukan untuk memfasilitasi tersedianya indikasi dan alarm alat produksi (pompa, kompresor, turbin, dll.) di control room.

Berikut adalah beberapa nama perusahaan nasional maupun multinasional yang bergerak dalam bidang rancang bangun pabrik dan fasilitas produksi yang banyak memiliki insinyur instrumentasi didalamnya: PT Tripatra, PT Rekayasa Industri, PT McDermott Indonesia, PT IKPT, PT Amec Berca, PT KBR Indonesia, PT Gunanusa Fabricator, PT. Technip, PT CeriaWorley, PT Pertafenikki, PT Saipem, dll. Untuk melihat contoh aktivitas pekerjaan apa saja yang dilakukan dapat dilihat di website masing-masing, seperti : tripatra.comtechnip.com, etc.
Industri Produk Sistem Instrumentasi dan Integrator Sistem

Industri ini dimotori oleh perusahaan-perusahaan yang memproduksi sistem instrumentasi dan kontrol (vendor) maupun perusahaan yang bersifat melakukan perancangan sistem kendali pabrik terintegrasi. Adanya produksi instrumentasi dengan berbagai jenis merek, memungkinkan suatu pabrik menggunakan sistem instrumentasi dan kontrol dengan merek yang berbeda-beda dimulai dari lapangan sampai ke tingkat manajemen parbik. Dibutuhkan suatu usaha untuk mensinkronkan kerja dari alat-alat tersebut supaya berfungsi dengan baik dan optimal. Suatu perusahaan bisa murni melakukan pekerjaan integrasi sistem ataupun melakukan pekerjaan integrasi sistem sekaligus menjual produk instrumentasi. Berikut adalah beberapa nama perusahaan nasional maupun multinasional yang bergerak sebagai supplier dan service provider perangkat instrumentasi dan kontrol, dan banyak memiliki insinyur instrumentasi didalamnya: PT Yokogawa Indonesia, PT Widya Pandu Ekatama, PT Control System Indonesia, PT Transavia Otomasi Pratama, PT Wifgasindo Dinamika Instrument Engineering, PT Somit Karsa Trinergi, dll. Untuk melihat contoh perangkat instrumentasi dan kontrol, website vendor induknya dapat dilihat, seperti : emersonprocess.comyokogawa.com, etc.
Industri Pengolahan dan Manufaktur

Pabrik atau fasilitas produksi yang sudah berjalan memerlukan insinyur instrumentasi dan kontrol untuk melakukan perawatan, penyelesaian masalah ataupun perancangan sistem baru yang akan ditambahkan pada pabrik atau fasilitas produksi. Hal ini karena semua industri sekarang menggunakan otomatisasi sebagai bagian integral dari unit proses atau fasilitas produksi. Tanpa otomatisasi atau instrumentasi pabrik atau fasilitas produksi akan menjadi sangat tidak efisien dan seringkali membahayakan.

Industri pengolahan dan manufaktur memiliki banyak ragam, mulai industri hulu hingga hilir seperti : industri minyak dan gas, industri pupuk, industri semen, industri makanan dll. Industri manufaktur memiliki banyak ragam dari mulai industri manufaktur elektronika, manufaktur kendaraan bermotor (mobil/motor), manufaktur peralatan industri, dll. Berikut adalah beberapa nama perusahaan nasional maupun multinasional yang memiliki pabrik atau fasilitas produksi dan banyak memiliki insinyur instrumentasi didalamnya: PT ExxonMobil Oil Indonesia, PT Chevron Indonesia, PT. Total E&P Indonesie, PT Pertamina E&P, PT Medco Indonesia, PT Pupuk Kaltim, PT Chandra Asri, PT Asahimas Chemical, PT Semen Gresik, PT Unilever Indonesia, PT Panasonic Indonesia, PT Astra International, dll.

[sunting]
Beberapa Lulusan Teknik Fisika yang Menonjol

Meskipun banyak sekali lulusan Teknik Fisika yang berprofesi insinyur sebagai karir pertamanya, tak sedikit pula yang sudah sukses menduduki posisi yang menonjol dibidangnya Kusmayanto Kadiman sebagai Menteri Negara Riset dan Teknologi Republik Indonesia dibawah pemerintahan Susilo Bambang Yudhoyono, Fadel Muhammad sebagai Gubernur Gorontalo, Rama Royani sebagai pemilik berbagai macam perusahaan yang bergerak dibidang instrumentasi dan Ahmad Faisal sebagai Corporate Senior Vice President, Marketing and Trading di PT Pertamina, Karen Agustiawan sebagai Dirut Pertamina.

AJARAN

Agustus 3rd, 2009 by unikdental09

Mengungkap Ajaran Siti Jenar
Post a reply

1 post • Page 1 of 1
Mengungkap Ajaran Siti Jenar

by ZoRRo on Wed May 23, 2007 2:51 pm
Sosok Syekh Siti Jenar yang banyak dimitoskan pelan-pelan terkuak. Beberapa penelitian menyingkap sosok dan ajarannya. Benarkah dia sosok yang murtad dari sudut pandang agama ? Selasa lalu (15/5) Kajian Islam Utan Kayu (KIUK) berbincang-bincang dengan Agus Sunyoto, penulis 7 jilid buku fiksi sejarah tentang tokoh kontroversial tersebut.

Seperti apa riwayat ketertarikan Anda meneliti sosok Syekh Siti Jenar?
Kakek saya dari pihak ibu adalah orang Jombang. Dia mengaku mengamalkan ajaran Syekh Siti Jenar. Ketika saya tanya dari mana memperoleh pengetahuan itu, dia jawab, “Lho, saya kan santri Tebu Ireng angkatan pertama!”

Dia meninggal 1995 dalam usia 105 tahun. Satu-satunya guru yang dia ikuti ajarannya sampai saat itu adalah almarhum KH Hasyim Asyari. “Berarti Mbah Hasyim mengajarkan soal ini, dong?” tanya saya. “Lha, iya!” katanya.

Saya berpikir, dari mana dia dapat itu kalau bukan dari Mbah Hasyim langsung. Tapi saya masih ragu: masak Mbah Hasyim mengajarkan itu?! Dari beberapa sumber lain, saya mendapat jawaban yang sama. Jadi, saya berkesimpulan benar bahwa Mbah Hasyim mengajarkan itu.

Apakah ajaran Siti Jenar masih berjejak dalam masyarakat Jawa saat ini?
Ada. Itu terlihat dari adanya guru-guru tarekat atau kebatinan dari kalangan pribumi. Sebelum Siti Jenar, masyarakat pribumi tidak boleh menjadi guru (tarekat). Setelah itu, baru boleh.

Unsur-unsur apa dari ajaran Siti Jenar yang masih tampak dalam tarekat yang mengklaim tersambung dengan dirinya?
Egalitarianisme. Mereka egaliter sekali. Tarekat mereka tidak mengenal mursyid-mursyid yang diagungkan. Kalau mereka berdiskusi soal-soal teologis, maka kedudukan guru tidak ada sama sekali. Semua orang adalah lawan bicara. Jadi, tidak ada kultus mursyid.

Adakah ciri lainnya?
Ada. Cara mereka menuju Tuhan sangat individualistik. Toh, Nabi Muhammad ketemu Tuhan dengan cara sendirian di Gua Hira. Mereka tidak rame-rame. Kalau dilakukan rame-rame, itu namanya demonstrasi, bukan mencari Tuhan. Ketiga, masing-masing pengikut tarekat ini tidak saling kenal, dan ajaran-ajarannya disampaikan secara rahasia.

Doktrin apa yang tampak paling mencolok dari tarekat mereka?
Yang utama soal tauhid. Pemahaman tentang ini agak beda dengan pemahaman awam. Tuhan bagi mereka adalah sesuatu yang tidak terdefinisikan. Laitsa kamitslihi syai’un atau Dia adalah yang tidak bisa digambarkan. Siti Jenar juga mengatakan bahwa ke-99 sifat Tuhan di dalam asma’ul husna itu juga ada potensi-potensinya dalam diri semua manusia.

Manusia punya sifat sabar karena Allah punya sifat as-Shabûr (Mahasabar). Manusia sombong karena memang ada sifat al-mutakabbir (Mahasombong) pada Allah.

Ada juga sifat ad-Dhâr, Yang Maha membuat bahaya. Lah, manusia itu kan sering melakukan hal yang membahayakan orang lain maupun dirinya. Jadi, bagi Siti Jenar, tanpa adanya manusia, tidak ada asma’ul husna, karena dia juga mengejawantah di dalam diri manusia.

Pandangan teologis Siti Jenar itu qadariyah, jabariyah, atau apa?
Tidak itu semua. Bagi dia, orang yang mengamalkan ajarannya haruslah hidup dalam kehidupan masyarakat sehari-hari. Dari situ dapat dibuktikan bagaimana citra insan kamil (manusia sempurna) itu mengejawantahkan sifat-sifat Tuhan. Artinya, manusia adalah cerminan Tuhan.

Karena itu, manusia harus mengamalkan watak as-Shabûr, al-`Âdil, al-Hakîm, dan watak-watak Tuhan lainnya.

Siti Jenar punya struktur berpikir yang sederhana. Misalnya, dia bicara soal al-khâliq, Mahapencipta atau Sang Pencipta. Kata ini terdiri atas tiga huruf: kha’, lam, qaf. Dari kata khâliq itu justru ada ciptaan atau al-khalq. Jadi, ada pencipta dan ada ciptaan.

Karena itu, munculnya khalq atau ciptaan berasal dari kha-la-qa dan al-khâliq. Hurufnya masih sama: kha’, lam, dan qaf. Nah, bagaimana cara si khalq menuju khâliq?

Jadi?
Ada perantara bernama khuluq, budi pekerti. Khuluq-nya siapa? Khuluq yang karim (budi pekerti yang mulia). Semakin seseorang tak bisa mengejawantahkan khuluq itu, makin jauh dia dari Tuhan. Kalau khuluq-nya jelek, ya mesti jauh dari khâliq. Kalau mau dekat, ya harus mencerminkan perilaku sang khâliq.

Apa standar khuluq-nya di situ?
Ya, perbutan sehari-hari. Ritual salat misalnya, (yang penting) efeknya dalam kehidupan sehari-hari, yaitu tanhâ `anil fahsyâ’i wal munkar (menjauhkan dari perbuatan keji dan munkar, Red). Khuluq itu ada dalam kehidupan sehari-hari.

Karena itu, orang tidak boleh mengasingkan diri dari kehidupan dan masyarakat. Khairun nas anfa`uhum lin nas (sebaik-baik manusia adalah yang paling bermanfaat bagi orang lain, Red). Makin banyak manfaatnya akan makin bagus; makin mulia. Makin banyak mudaratnya, makin jelek orangnya.

Lalu fungsi ritual agama seperti apa?
Kalau kembali ke syariat, satu-satunya agama yang mensyaratkan uji empiris adalah Islam. Semuanya empiris, dan yang tidak empiris tidak diakui. Orang yang beriman harus jelas: diyakini di dalam hati, lalu diucapkan dengan lisan.

Pengujinya apa? Perbutan! Kalau ucapanmu tak sesuai dengan tindakanmu, maka stempelmu adalah munafik. Itu empiris! Jadi, dasar pertama adalah uji empiris. Sampai menyangkut soal salat. Untuk menandai kamu Islam, ya salat. As-salâtu `imadud dîn, salat itu tiang agama. Jadi, ujinya empiris.

Di mana titik polemis antara Siti Jenar dan para wali lainnya?
Tidak ada (dalam soal itu). Tapi, Siti Jenar juga mengajarkan unsur tarekat yang di dalamnya terkandung pengetahuan-pengetahuan spiritual. Yang namanya spiritualitas itu kan tidak bisa dibuktikan secara empiris. Sementara, bagi ulama yang berpikiran feqih atau syariat-sentris, pengalaman spiritual itu bersifat sangat pribadi. Bagaimana membuktikannya?!

Kalau sudah fana ketemu Tuhan, apa tandanya? Karena itu, susah memahami ungkapan sosok seperti al-Hallaj, wamâ fî jubbatî illalLâh, tidak ada lain dalam jubahku kecuali Allah. Atau ungkapan anal haq! (akulah Sang Kebenaran) dan ungkapan lainnya.

Semua itu tidak bisa dibuktikan secara empiris. Makanya, itu dianggap salah. Karena standar ujinya empirisisme.

Apa beda teori penciptaan Siti Jenar dengan teori pancaran atau emanasi dari Ibu Sina?
Dalam pandangan Siti Jenar, munculnya segala makhluk berasal dari itu tadi: khâliq menjadi khalq. Kemudian, ada juga istilah ma`bûd (sembahan) dengan `âbid (penyembah). Hurufnya sama.

Bagi Siti Jenar, ada tuan dan ada hamba. Di antara keduanya ada yang bernama `ibâd (kawula). Dari sini juga muncul kata ibadah. Jadi, hubungannya lurus; harus lurus. Kalau hubungan `ibâd dengan ma`bûd makin tidak lurus, itulah yang dinamakan bid’ah.

Jadi, bid’ah tak dimaknai sebagai sesuatu yang ditambah-tambahi dalam agama. Standarnya tidak fikih. Kalau sesuatu menyimpang dari tauhid, itu baru bid’ah.

Kalau orang melakukan ibadah, misalnya, sedekah, untuk pamer-pamer, bukan untuk ma`bûd-nya, itu bid’ah, pamer! Ayo tivi, shooting saya yang nyantuni anak yatim! Itu bid’ah namanya. Itulah pemaknaan Siti Jenar.

Untuk memperantarai hubungan khâliq dengan khalq, ada konsep nur muhammad. Anda memaknainya sebagai “cahaya yang terpuji”, bukan cahaya Nabi Muhammad. Mengapa?
Itu pemaknaan Siti Jenar. Nama Muhammad itu kan terhitung baru. Sebelum Islam, tak ada orang Arab bernama Muhammad. Dan yang menyampaikan konsep nur muhammad juga bukan Nabi Muhammad. Ini konsep perantara untuk penciptaan awal.

Nur muhammad inilah yang oleh Siti Jenar dianggap sebagai cara pemunculan hakikat muhammadiyah.

Ceritanya begini. Taruhlah nur muhammad itu biji nangka yang sudah ada konsep buah, daun, batang, dan lainnya. Itu sudah ada. Tapi dia dibungkus dalam biji nangka. Nah, hakikat muhammadiyah baru ada kalau buah itu ditanam, tumbuh, dan betul-betul menunjukkan ada konsep daun, batang, akar, dan lain sebagainya.

Jadi, konsep nur muhammad itu tidak bermakna eksklusif bahwa penciptaan harus lewat jalur Nabi Muhammad. Menurut Siti Jenar, seluruh makhluk, apa pun agama dan jenisnya, berasal dari konsep nur muhammad itu.

Bagaimana sikap Siti Jenar terhadap keragaman budaya lokal di Jawa?
Dia justru mengakomodasi itu semua. Karena itu, terhadap agama Kapitayan, agama tauhid pra-Hindu, dia langsung ambil-alih. Bagi dia, untuk menyebarkan Islam, ini sama saja. Tapi dia juga memodifikasi. Kalau untuk menyembah Tuhan, bagi dia tak usah pakai istilah salat. Sebab, agama Kapitayan sudah pakai istilah sembah Hyang. Kata itu lalu dipakai. Hyang itu dalam bahasa Kawi artinya dewa

syeh siti jenar

Agustus 3rd, 2009 by unikdental09

0 October 2007, 06:14 PM
liar
Guest Posts: n/a

Siti Jenar Dianggap Provokator Kesadaran
21/05/2007

Makanya para pengikut Siti Jenar itu kemudian dikelompokkan sebagai golongan abangan. Artinya, pengikut ajaran Lemah Abang (nama lain Siti Jenar, Red). Ketika membuat dikotomi santri-abangan, Clifford Geertz (antropolog Amerika) tidak tahu hal itu. Kalau golongan abangan diidentifikasi dengan selamatan, itu kekeliruan yang sangat fatal.

Historisitas sosok Syekh Siti Jenar yang banyak dimitoskan orang kini pelan-pelan terkuak. Beberapa penelitian serius telah menyingkap sosok dan aspek-aspek ajarannya. Benarkah ia sosok yang murtad dari sudut pandang agama? Selasa lalu (15/5) Kajian Islam Utan Kayu (KIUK) berbincang-bincang dengan Agus Sunyoto, penulis tujuh jilid buku fiksi sejarah tentang tokoh kontroversial tersebut.

Mas Agus, bagaimana riwayat ketertarikan Anda meneliti sosok Syekh Siti Jenar?

Kakek saya dari pihak ibu adalah orang Jombang. Dia mengaku orang yang mengamalkan ajaran Syekh Siti Jenar. Ketika saya tanya darimana memperoleh pengetahuan itu, dia jawab, �Lho, saya kan santri Tebu Ireng angkatan pertama!� Dia meninggal tahun 1995 dalam usia 105 tahun. Satu-satunya guru yang dia ikuti ajarannya sampai saat itu adalah almarhum KH Hasyim Asyari. �Berarti Mbah Hasyim mengajarkan soal ini, dong?� tanya saya. �Lha, iya!� katanya. Saya berpikir, darimana dia dapat itu kalau bukan dari Mbah Hasyim langsung. Tapi saya masih ragu: masak Mbah Hasyim mengajarkan itu?! Dari beberapa sumber lain, saya mendapat jawaban yang sama. Jadi saya berkesimpulan bahwa benar bahwa Mbah Hasyim mengajarkan itu.

Apakah ajaran-ajaran Siti Jenar masih berjejak dalam masyarakat Jawa saat ini?

Ada. Itu terlihat dari adanya guru-guru tarekat atau kebatinanan dari kalangan pribumi. Sebelum Siti Jenar, masyarakat pribumi tidak boleh menjadi guru (tarekat). Setelah itu baru boleh.

Unsur-unsur apa dari ajaran Siti Jenar yang masih tampak dalam tarekat yang mengklaim tersambung dengan dirinya?

Dalam hal egalitaranisme. Mereka egaliter sekali. Tarekat mereka tidak mengenal adanya mursyid-mursyid yang diagungkan. Kalau mereka berdiskusi soal-soal teologis, maka kedudukan guru tidak ada sama sekali. Semua orang adalah lawan bicara. Jadi tidak ada kultus mursyid. Ciri lainnya, cara mereka menuju Tuhan sangat individualistik. Toh, Nabi Muhammad ketemu Tuhan dengan cara sendirian di Gua Hira. Mereka tidak rame-rame. Kalau dilakukan rame-rame, itu namanya demonstrasi, bukan mencari Tuhan. Ketiga, masing-masing pengikut tarekat ini tidak saling kenal, dan ajaran-ajarannya disampaikan secara rahasia.

Doktrin apa yang tampak paling mencolok dari tarekat mereka?

Yang utama soal tauhid. Pemahaman tentang ini agak beda dengan pemahaman awam. Tuhan bagi mereka adalah sesuatu yang tidak terdefenisikan. Laitsa kamitslihi syai’un atau Dia adalah yang tidak bisa digambarkan. Siti Jenar juga mengatakan bahwa ke-99 sifat Tuhan di dalam asma’ul husna itu juga ada potensi-potensinya dalam diri semua manusia.

Manusia punya sifat sabar, karena Allah punya sifat as-Shabûr (Mahasabar). Manusia sombong karena memang ada sifat al-mutakabbir (Mahasombong) pada Allah. Ada juga sifat ad-Dhâr, Yang Maha membuat bahaya. Lah, manusia itu kan seringkali melakukan hal yang membahayakan orang lain maupun dirinya. Jadi, bagi Siti Jenar, tanpa adanya manusia, tidak ada asma’ul husna, karena dia juga mengejawantah di dalam diri manusia.

Pandangan teologis Siti Jenar itu qadariyah, jabariyah, atau apa?

Tidak itu semua. Bagi dia, orang yang mengamalkan ajarannya haruslah hidup dalam kehidupan masyarakat sehari-hari. Dari situ dapat dibuktikan bagaimana citra insan kamil (manusia sempurna) itu mengejawantahkan sifat-sifat Tuhan. Artinya, manusia adalah cerminan Tuhan. Karena itu, manusia harus mengamalkan watak as-Shabûr, al-`Âdil, al-Hakîm, dan watak-watak Tuhan lainnya.

Siti Jenar punya struktur berpikir yang sederhana. Misalnya dia bicara soal al-khâliq, Mahapencipta atau Sang Pencipta. Kata ini terdiri dari tiga huruf: kha’, lam, qaf. Dari kata khâliq itu justru ada ciptaan atau al-khalq. Jadi ada pencipta dan ada ciptaan. Karena itu, munculnya khalq atau ciptaan berasal dari kha-la-qa dan al-khâliq. Hurufnya masih sama: kha’, lam, dan qaf. Nah, bagaimana cara si khalq menuju khâliq?

Ada perantara bernama khuluq, budi pekerti. Khuluq-nya siapa? Khuluq yang karim (budi pekerti yang mulia). Semakin seseorang tak bisa mengejawantahkan khuluq itu, makin jauh dia dari Tuhan. Kalau khuluq-nya jelek, ya mesti jauh dari khâliq. Kalau mau dekat, ya harus mencerminkan perilakunya sang khâliq.

Apa standar khuluq-nya di situ?

Ya, perbutan sehari-hari. Ritual salat misalnya, (yang penting) efeknya dalam kehidupan sehari-hari, yaitu tanhâ `anil fahsyâ’i wal munkar (menjauhkan dari perbuaran keji dan munkar, Red). Khuluq itu ada dalam kehidupan sehari-hari. Karena itu, orang tidak boleh mengasingkan diri dari kehidupan dan masyarakat. Khairun nas anfa`uhum lin nas (sebaik-baiknya manusia adalah yang paling bermanfaat bagi orang lain, Red). Makin banyak manfaatnya akan makin bagus; makin mulia. Makin banyak mudaratnya, makin jelek orangnya.

Lalu fungsi ritual agama seperti apa?

Kalau kembali ke syariat, satu-satunya agama yang mensyaratkan uji empiris adalah Islam. Semuanya empiris, dan yang tidak empiris tidak diakui. Orang yang beriman harus jelas: diyakini di dalam hati, lalu diucapkan dengan lisan. Pengujinya apa? Perbutan! Kalau ucapanmu tak sesuai dengan tindakanmu, maka stempelmu adalah munafik. Itu empiris! Jadi, dasar pertama adalah uji empiris. Sampai menyangkut soal salat. Untuk menandai kamu Islam, ya salat. As-salâtu `imadud dîn, salat itu tiang agama. Jadi, ujinya empiris.

Lantas di mana titik polemis antara Siti Jenar dengan para wali lainnya?

Memang tidak ada (dalam soal itu). Tapi Siti Jenar juga mengajarkan unsur tarekat yang di dalamnya terkandung pengetahuan-pengetahuan spiritual. Yang namanya spiritualitas itu kan tidak bisa dibuktikan secara empiris. Sementara, bagi ulama yang berpikiran fiqih atau syariat-sentris, pengalaman spiritual itu bersifat sangat pribadi. Bagaimana membuktikannya?!

Kalau sudah fana ketemu Tuhan, apa tandanya? Karena itu, susah memahami ungkapan sosok seperti al-Hallaj, wamâ fî jubbatî illalLâh, tidak ada lain dalam jubahku kecuali Allah. Atau ungkapan anal haq! (akulah Sang Kebenaran) dan ungkapan lainnya. Semua itu tidak bisa dibuktikan secara empiris. Makanya, itu dianggap salah. Karena standar ujinya empirisisme.

Apa beda teori penciptaan Siti Jenar dengan teori pancaran atau emanasi (nazariyyatul faidl) dari Ibu Sina?

Dalam pandangan Siti Jenar, munculnya segala makhluk berasal dari itu tadi: khâliq menjadi khalq. Kemudian ada juga istilah ma`bûd (sembahan) dengan `âbid (penyembah). Hurufnya sama. Bagi Siti Jenar, ada tuan dan ada hamba. Di antara keduanya ada yang bernama `ibâd (kawulo). Dari sini juga muncul kata ibadah. Jadi, hubungannya lurus; harus lurus. Kalau hubungan `ibâd dengan ma`bûd makin tidak lurus, itulah yang dinamakan bid’ah.

Jadi, bid’ah tak dimaknai sebagai sesuatu yang ditambahi-tambahi dalam agama. Standarnya tidak fikih. Kalau sesuatu menyimpang dari tauhid, itu baru bid’ah. Kalau orang melakukan ibadah, misalnya sedekah, untuk pamer-pamer, bukan untuk ma`bûd-nya, itu bid’ah, pamer! Ayo tivi, shooting saya yang nyantuni anak yatim! Itu bid’ah namanya. Itulah pemaknaan Siti Jenar.

Untuk memperantarai hubungan khâliq dengan khalq, ada konsep nur muhammad. Anda memaknainya sebagai �cahaya yang terpuji�, bukan cahaya Nabi Muhammad. Mengapa?

Itu pemaknaan Siti Jenar. Nama muhammad itu kan terhitung baru. Sebelum Islam, tak ada orang Arab bernama Muhammad. Dan yang menyampaikan konsep nur muhammad juga bukan Nabi Muhammad. Ini konsep perantara untuk penciptaan awal. Nur muhammad inilah yang oleh Siti Jenar dianggap sebagai cara pemunculan hakikat muhammadiyah.

Ceritanya begini. Taruhlah nur muhammad itu biji nangka yang sudah ada konsep buah, daun, batang, dan lainnya. Itu sudah ada. Tapi dia dibungkus dalam biji nangka. Nah, hakeket muhammadiyah baru ada kalau buah itu ditanam, tumbuh, dan betul-betul menunjukkan ada konsep daun, batang, akar, dan lain sebagainya. Jadi, konsep nur muhammad itu tidak bermakna eksklusif bahwa penciptaan harus lewat jalur Nabi Muhammad. Menurut Siti Jenar, seluruh makhluk, apapun agama dan jenisnya, berasal dari konsep nur muhammad itu.

Bagaimana sikap Siti Jenar terhadap keragaman budaya lokal di Jawa?

Dia justru mengakomodasi itu semua. Karena itu, terhadap agama Kapitayan, agama tauhid pra-Hindu, dia langsung ambil-alih. Bagi dia, untuk menyebarkan Islam, ini sama saja. Tapi dia juga memodifikasi. Kalau untuk menyembah Tuhan, bagi dia tak usah pakai istilah salat. Sebab, agama Kapitayan sudah pakai istilah sembah Hyang. Kata itu lalu dipakai. Hyang itu dalam bahasa Kawi artinya dewa.
#100
10 October 2007, 06:15 PM
liar
Guest Posts: n/a

Bagaimana memodifikasi Hyang sebagai dewa jadi Hyang sebagai Allah?

Begini! Ajaran Kapitayan itu memuja dewa utama bernama Sang Hyang Toyo. Dalam bahasa Jawi, Toyo itu berarti kosong, hampa, suwung. Dia tan kena kinaya; tak bisa diapa-apakan. Dinalar nggak bisa, dilihat nggak bisa, didefenisikan juga nggak bisa. Itu sama dengan ungkapan laitsa kamitslihi syai’un. Nah, kalau begitu, bagaimana orang bisa tahu Sang Hyang Toyo kalau Dia tidak bisa didefenisikan?

Dalam Kapitayan disebutkan, Dia muncul dalam bentuk pribadi yang disebut tu atau to. Artinya kekuatan yang punya daya sakti. Daya sakti dari kekuatan Hyang Toyo inilah yang sudah dikenal sifatnya. Ada dua sifat, yaitu baik dan buruk. Sifat baik disebut tu, lalu menjadi Tuhan; sementara yang jelek disebut hantu. Karena itu, dalam asumsinya orang-orang, hantu mesti jelek, dan Tuhan mesti baik. Itu dari Kapitayan dan bahasa Kawi.

Tapi orang juga mikir, di mana tempatnya Sang Hyang, yaitu hantu dan tuhan ini? Wong dia juga masih abstrak dan hanya ada sifatnya! Lalu diyakini, tu bisa muncul pada sesuatu. Sesuatu yang disebut tu: watu, tugu, tuban (air terjun), tuk (mata air), tunggul, tunggak, tumbak, tulang. Semua ada di situ dalam bentuk kekuatannya.

Bagaimana membedakannya dengan paham animisme, misalnya?

Beda. Ini sesuatu yang dianggap ada rohnya. Kalau animisme dan dinamisme, semuanya benda saja. Ini tidak begitu; dia hanya berwujud kekuatan gaib. Ini juga ada ujungnya, yaitu Tuhan yang tidak bisa didefenisikan itu. Toyo tadi.

Kaum animis pun menganggap barang-barang sembahan itu hanya medium penyembahan saja?!

Tapi dalam animisme dan dinamisme, tidak ada konsep satu Tuhan yang abstrak. Sang Pencipta macam-macam, itu tidak ada. Dari situlah orang melakukan sesaji dengan tumpeng, tukung, tumbu, dan seterusnya. Bahkan untuk upacara tertentu yang bersifat rahasia untuk mewujudkan keinginan yang besar, biasanya ada sesembahan khusus yang bernama tumbal.

Bagaimana Siti Jenar menyikapi sesaji itu?

Dia melihat ujungnya adalah tauhid. Nah, masyarakat di luar Keraton waktu itu adalah pengikut ajaran ini, bukan ajaran Hindu. Agama Hindu itu hanya dianut orang-orang Keraton. Jadi mereka masih ke arah ini (tauhid). Dan masyarakat juga masih dibiarkan membikin tumpeng, sesaji, dan semacamnya.

Jadi dia tidak lakukan konfrontatif. Karena itu, tempat ibadahnya orang-orang Kapitayan yang namanya sanggar, bentuknya diambil-alih kemudian. Tapi namanya bukan lagi sanggar, tapi langgar. Karena itu langgar di Jawa itu berbeda dengan langgar di tempat lain. Yang namanya mihrab itu adalah ruang kosong yang menjorok ke dalam. Itu dulu punya orang Kapitayan. Tempatnya seperti gentong yang masuk ke dalam. Itulah namanya kosong, suwung. Bentuknya sama persis dengan mihrab sekarang.

Kemudian ada juga ibadah Kapitayan yang mirip seperti orang-orang Islam, yaitu tidak makan sehari. Tapi namanya bukan shaum, melainkan pawasa atau puasa. Itu artinya juga tidak makan sehari, dari bahasa Kawi. Kemudian juga cerita soal surga-neraka. Bagi Siti Jenar, tidak usah pakai istilah jannatul firdaus, jannatu adn, dan sebagainya. Masyarakat tidak mengerti. Maka dipakailah kata suwarga dan neraka yang orang-orang sudah mengerti. Kosa kata itu sudah digunakan sejak lama. Termasuk ketika menyebut penghuni surga. Tidak usah pakai hûrin `în segala. Orang tidak akan tahu. Pakai saja istilah bidadari.

Ajaran apa dari Siti Jenar yang dianggap mengkhawatirkan kekuasaan?

Ketika dia mengubah konsep kawulo menjadi masyarakat. Terutama ajaran tentang manunggaling kawulo gusti. Artinya, kesetaraan antara rakyat dengan penguasa. Masyarakat itu berarti orang yang punya hak sama, dari kata musyârakah (Arab: berpartisipasi dan bekerjasama). Pengikut-pengikutnya tak dibolehkan memakai kata kulo atau kawulo, tapi pakai kata ingsun. Makanya, orang Cirebon sampai sekarang menyebut aku, ya ingsun. Itu membuat marah raja. Dalam tatanan sosial-budaya saat itu, kata ingsun hanya berhak digunakan raja. Kok banyak orang desa menyebut dirinya ingsun?! Ini dianggap merusak tatanan.

Juga ajarannya bahwa pemimpin harus dipilih. Karena itu, demokrasi pertama itu ada pada ajaran Syekh Siti Jenar. Dia yang memelopori kepemimpinan ki ageng. Kota Cirebon saat itu disebut garade (negara gede). Sebab, saat itu yang berkuasa orang-orang gede. Negaranya para orang gede. Maksudnya bukan negara yang besar. Tapi negaranya orang-orang besar.

Sekarang kita menerima kata masyarakat secara taken for granted. Kita tak tahu konsepsi apa di balik kata itu. Makanya para pengikut Siti Jenar itu kemudian dikelompokkan sebagai golongan abangan. Artinya, pengikut ajaran Lemah Abang (nama lain Siti Jenar, Red). Ketika membuat dikotomi santri-abangan, Clifford Geertz (antropolog Amerika) tidak tahu hal itu. Kalau golongan abangan diidentifikasi dengan selamatan, itu kekeliruan yang sangat fatal.

Apakah ajaran Siti Jenar atau tarekatnya sekarang mungkin berkembang?

Mungkin saja. Tapi ajarannya itu sebenarnya tertutup. Ada beberapa pejabat aneh yang saya curigai menganut ajaran ini. Setelah saya dekati dan ajak ngobrol, ternyata benar. Masak pejabat tidak mau terima suap, tidak korupsi, dan sebagainya?! Ini kan aneh. Mengidentifikasi mereka itu gampang.

Mereka biasanya aneh dan tak mau ikut orang kebanyakan. Ada pejabat yang dalam kondisi sekarang kok jujur, tidak korupsi, tidak dekat-dekat wartawan. Pokoknya tak mau ikut kebiasaan para pejabat umumnya. Setelah saya dekati, biasanya dia mengaku pengikut Siti Jenar. Ada seorang pejabat yang tiap kali gajian justru membeli sembako untuk para tetangganya yang miskin. Padahal, hidupnya biasa-biasa saja. Ternyata, orang itu mengamalkan ajaran Syekh Siti Jenar. Pokoknya, orangnya aneh-aneh.

Jadi jauh dari kesan negatif yang dicitrakan selama ini, dong?!

Ya. Soalnya, babad-babad yang ditulis tentang Siti Jenar itu adalah tulisan orang Keraton semua. Mereka merasa sebagai pihak yang dirugikan oleh Siti Jenar. Karena itu, sikap orang Keraton Mataram sangat ambigu terhadap Siti Jenar. Di satu sisi mereka memitoskan hal-hal yang baik dari Siti Jenar, di sisi lain merasa dia membahayakan kedudukan raja. Dalam ajaran Siti Jenar tidak boleh ada kedinastian.

Aspek lain yang dianggap mengancam adalah soal pemimpin yang harus dipilih. Dulu tidak begitu. Pemimpin seperti jabatan dari Tuhan. Selain itu juga ajaran untuk menahan pajak sebagai penentangan terhadap pemimpin. Bagi Siti Jenar, kalau anda tak suka kekuasaan, ya apa yang mendukung kekuasaan itu dipotong saja. Jadi, perlawanannya taktis. Kalau diperintah sesuatu, bilang �ya� saja, tapi jangan dilakoni. Makanya, para penguasa jengkel. Bagi pemerintah saat itu, apa yang dikatakan itu serius sekali. Siti Jenar dianggap provokator yang membangkitkan kesadaran orang atas hak-haknya. []

ini saya kutib dari http://islamlib.com semoga bermanfaat.

JAIPONG

Agustus 3rd, 2009 by unikdental09

Jaipong dan Peta Keislaman di Indonesia
Ditulis oleh Ahmad Makki
Selasa, 31 Maret 2009 23:48

Beberapa waktu lalu Gubernur Jawa Barat, Ahmad Heryawan, melontarkan pernyataan soal budaya jaipongan yang dikaitkan dengan nilai-nilai kesopanan. Ia mengatakan bahwa budaya yang identik dengan goyangan ini mesti “dipermak ulang” agar terlihat lebih sopan.

Pernyataan ini sempat menyulut kontroversi dan tentu saja memancing penolakan, terutama dari kalangan penggiat kebudayaan. Mereka tentu saja menganggap bahwa pernyataan Heryawan keterlaluan dan cenderung tidak mengapresiasi kebudayaan yang telah dijalani dan dihayati masyarakat secara turun-temurun.

Statement ini menurut saya bisa dihadapkan dengan ucapan Ketua Umum PBNU, KH. Hasyim Muzadi beberapa bulan sebelumnya yang mengajak masyarakat untuk menolak tren baru keislaman yang disebutnya sebagai transnasionalisme Islam. Saya melihat pernyataan Heryawan dan KH Hasyim Muzadi ini sebagai gambaran dari peta keragaman pemahaman keislaman yang ada di Nusantara.
Ahmad Heryawan, kita tahu, adalah tokoh politik yang berasal dari Partai Keadilan Sejahtera (PKS) yang kini banyak menjadi bahan perbincangan publik karena tengah naik daun. Partai ini berbeda dengan banyak partai Islam lainnya karena berlandaskan corak pemahaman keislaman yang dapat dikatakan baru di negeri ini.

Kita tahu secara garis besar corak pemahaman keislaman di negeri ini didominasi oleh dua ormas besar, yakni Nahdatul Ulama (NU), serta Muhamadiyah. Di luar dua kekuatan mainstream tersebut masih ada kelompok seperti Persis dan lain-lain.

Partai-partai Islam selain PKS, seperti PPP, PBB, PKNU dan lain sebagainya, meski memiliki nilai perjuangan yang berbeda, namun landasannya masih tak bergeser jauh dari ormas-ormas Islam yang disebut di atas. Karenanya tak heran jika mereka cenderung tak punya permasalahan berarti dengan budaya lama Nusantara, bahkan yang bersifat goyangan sekalipun.

Sementara PKS adalah sebuah partai yang berpijak dari paham wahabiah yang kini menjadi kekuatan dominan di Arab Saudi. Secara genealogi ide partai ini memiliki banyak kesamaan dengan organisasi Hizbut Tahrir (HT).

Pandangan miring Ahmad Heryawan terhadap “tradisi goyang”, yang bisa dikatakan mewakili pendirian partainya, tak mengherankan jika melihat karakter paham wahabi yang memang senang melakukan purifikasi terhadap pemahaman keagamaan, dan mengidealkan corak hidup layaknya pada era Nabi Muhammad. Makanya tak jarang gerakan kelompok seperti ini disebut sebagai arabisasi Islam (lihat tulisan berjudul Menolak Arabisasi Islam Indonesia).

Corak gerakan seperti inilah yang disebut oleh KH. Hasyim Muzadi sebagai gerakan “transnasionalisme Islam. Gerakan transnasionalisme Islam dimaksudkan sebagai pemahaman keagamaan yang cenderung tidak mengapresiasi budaya lokal setempat yang tentu saja tidak dikenal pada pola kehidupan di era Nabi Muhammad. Mereka menganggap bahwa pola kehidupan generasi pertama Islam bernilai universal, baik dalam konteks ruang maupun waktu. Tak peduli jika sendi-sendi sosiologis masyarakat telah beubah jauh. Karenanya tak heran jika gerakan semacam ini menyenangi simbol-simbol khas budaya Arab seperti jenggot, jilbab dan pakaian yang sangat lebar, sampai istilah-istilah arab seperti antum, ukhti, muhasabah dan seterusnya. Bahkan ada yang menganggap simbol-simbol Arab tersebut sebagai bagian tak terpisahkan dari ritual keagamaan, sehingga seolah keagamaan seseorang bisa diukur dari rajinnya ia memelihara jenggot!

Sementara pendirian NU yang diwakili oleh pernyataan KH hasyim Muzadi dapat dilacak sejak berabad-abad lampau di Nusantara. Kreativitas dakwah yang diusung kelompok Wali Songo, yang banyak melakukan hibridisasi antara nilai-nilai keagamaan dengan kebudayaan lokal, membuat Islam dapat diterima secara luas hampir di seluruh wilayah Nusantara. Padahal agama ini tergolong baru di negeri ini jika dibandingkan
dengan Hindu, Budha, apalagi Kapitayan, yakni salah satu agama tertua di Nusantara.

Sejarawan Agus Sunyoto mengatakan bahwa pola gerakan “arabisme Islam” sebetulnya sudah ada sejak orang-orang Islam pertama kali menginjakan kaki di wilayah ini. Namun ketika itu gerakan ini bukanlah berdasar sebuah ideologi seperti wahabi, namun hanya berdasar adat pedagang-pedagang Islam yang memang kebanyakan berasal dari Jazirah Arab dan sekitarnya.

Pola seperti itu, demikian Agus Sunyoto, terang saja gagal bersaing dengan agama seperti Hindu dan Budha yang rajin mengapresiasi budaya lama yang banyak berasal dari agama Kapitayan. Tren ini baru berhasil diubah oleh kelompok Wali Songo.

Kunci keberhasilan Wali Songo, menurut Agus Sunyoto, adalah sebagaimana disebut di atas, mau menghibridisasi nilai dan ritual keagamaan dengan corak pemahaman kebudayaan setempat. Makanya tak heran jika tradisi keislaman di Indonesia banya memiliki ciri khas yang tak bisa ditemui di tempat lain. Kekhasan ini ditunjukkan oleh istilah-istilah seperti sembahyang, puasa, langgar, neraka, surga, yang berasal dari Nusantara sendiri (bukan Budha atau Hindu), serta simbol seperti bedug, pesantren, sarung dan sebagainya.

Pola keislaman seperti ini sebetulnya pernah diusik oleh serombongan ulama yang baru pulang dari ibadah haji dan sempat memelajari paham wahabi di tanah Arab. Kelompok ini kemudian menamakan diri sebagai Muhammadiyah. Atas resistensi inilah para ulama yang mewarisi corak keislaman ala Wali Songo membentuk organisasi NU di bawah pimpinan KH. Hasyim Asyari.

Namun seiring perjalanan waktu, Muhammadiyah kian bersikap ramah terhadap budaya lokal. Saya pribadi melihat pergeseran ini paling mencolok terjadi ketika Muhamadiyah dipimpin oleh Prof. Dr. Syafii Maarif.

Paham wahabi di Nusantara baru mendapat tenaga kembali ketika muncul kelompok-kelompok seperti HT serta PKS. Pada level mahasiswa mereka mengorganisasi diri dalam Kesatuan Aksi Mahasiswa Muslimin Indonesia (KAMMI) serta Lembaga Dakwah kampus (LDK).

Menurut beberapa kawan saya yang berdomisili di daerah Sawangan Depok, pernyataan Ahmad Heryawan di atas bukanlah resistensi pertama kelompok wahabian ini terhadap tradisi. Sebelumnya Walikota Depok, Nurmahmudi Ismail, yang juga berasal dari PKS sudah menunjukkan gelagat penolakan terhadap ritual keagamaan yang memfusikan diri dalam tradisi seperti tahlil, maulid nabi dan lain sebagainya.

Resistensi masyarakat terhadap pandangan minor Ahmad Heryawan terhadap jaipongan mestinya jadi pelajaran berharga bagi kelompok ini. Tidak selamanya kebudayaan mesti ditimbang dari perspektif moralitas yang kaku dan justru asing di negeri ini.

Kegagalan upaya-upaya sebelumnya untuk “mengudeta” corak Islam yang ramah terhadap budaya kiranya cukup menjadi bukti bahwa kita, kaum muslim di Nusantara, -mengutip tulisan Ahmad Baso- bukanlah orang-orang Islam yang tengah tinggal di Nusantara, namun warga Nusantara yang memilih untuk memeluk Islam.

*Penulis adalah Kader PMII Cabang Ciputat, Fakultas Psikologi. Pernah aktif di PMII Cabang Ciputat, BEM UIN Jakarta, Komunitas Kata, dll. Untuk melihat artikel-artikel lainnya silahkan kunjungi blognya, klik disini.

MENGAPA??!!

Agustus 3rd, 2009 by unikdental09

JAMAN KIAN MAJU, TEHNOLOGI KIAN MUTAKHIR SAJA, TAPI MENGAPA MORAR TIDAK ADA YANG BERPIKIR TENTANG ITU??
MANUSIA??
APA YANG DIMAKSUD MANUSIAWI???……..
NAMA KAH?
PERBUATANKAH??
ATO AKHIR KITA KAH??
DAHULU KALA KITA MASIH PRIMITIF BELUM MENEMUKAN KAIN SEHINGGA KITA TELANJANG, SETELAH KITA TAU KEGUNAAN PAKAIN SEBAGI PENGHANGAT TUBUH, SEBAGAI KEINDAHAN JUGA TAPI MENGAPA SEMAKIN MAJU ZAMAN DIIKUTI PULA SEMAKIN MAJU KITA MEMBERONTAK TATANAN MORAL KITA??
ZAMAN DULU TAK BERBAJU SIDEBUT ZAMAN BATU ATO PRIMITIF
KEMUDIAN KETEMU ZAMAN YANG MAJU MENEMUKAN PERALATN BERBURU,TANI DAN PAKAIAN UGA DISEBUT ZAMAN PERTENGAHAN, DIZAMAN INI MANUSIA SUDAH MENGENAL RASA TOLERAN MESKI MASIH SEMPIT
KEMUDIAN ZAMN KE EMASAN ATO ZAMAN MODERN, DI ZAMAN INI MANUSIA SEMAKIN CERDAS DAN CANGGIH TAPI MENGAPA SEMAKIN BODOH PULA YAITU SEMAKIN MENYEPELEKAN KEMULIAYAAN DIRINYA??
BANYAK WANITA HANYA BERPAKAIAN MINI, “KATHOK” PINGGIR JALAN….LENGGAK LENGGOK DI MOL, MENGAPA??
PAKAIAN SEXSI, MENGAPA??
INGIN DIPERHATIKAN KAH?? SAYA YAKIN TIDAK SEKEDAR ITU……
KENAPA AGAMA SEMAKIN DIJAUHKAN?? DARINYA….
BANYAK YANG MEMANDANG AGAMA SEBAGAI FANATIK BUTA……KENAPA TIDAK MELIHAT DARI SISI AGAMA YANG PENUH CINTA KASIH DAN YANG MULIA…….
MISALNYA JANGANLAH MELETAKKAN KEPRIBADIAN KITA SAMA DENGAN ORANG=ORANG YANG SEDIKIT PUNYA MALU ITU…….
APASIH KEGUNAAN PAKAIAN??

HIJRAH ( EKONOMI)

Agustus 3rd, 2009 by unikdental09

Madinah Di Awal Hijrah
Sirah Nabawiyah
6/8/2008 | 03 Sya’ban 1429 H | Hits: 3,624
Oleh: Mochamad Bugi

 Tags:
Posted in Tak Berkategori | No Comments »